Tampilkan postingan dengan label 1st season. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1st season. Tampilkan semua postingan

Part VII (imaji dini hari)

Sahaja..

Termenung temani dini hari

Dan di pikiranku kau berlari-lari

Mengejar cinta

Menghiasinya dengan bunga dan semerbak mewanginya

Dapatkah Aku katakan bahwa semuanya adalah demi kebahagiaan, atau hanya demi melepas dahaga cinta itu sendiri?

Hanya kita yang tahu.

Readmore...

Part XVI (aku ingin)

Sahaja..

Aku merindukan tawa dari dalam hati

Aku merindukan nafas panjang diantara lelahku

Aku ingin teriak untuk kedamaian hati

Aku ingin berbuat sesuatu yang berarti demi kebahagiaan abadi

Aku merindukan sendiri diantara keramaian

Aku ingin memberimu,nya,mereka,kita

Aku tidak ingin diam

Keadaan ini terus menghampiri setiap Aku membuka mata untuk memulai hari-hari dengan apapun itu.

Readmore...

Part XV

Sahaja..

Kesombongan ternyata tidak mampu berbuat apa-apa saat Aku membutuhkannya.

Readmore...

PArt XIII (jujur)

Sahaja..

Aku terus berbohong pada diri sendiri

Menutup malu kepada taman surga karena ia mampu indah untuk kejujurannya

Dan Aku, kejujuranku masih palsu kejujuran yang tak pernah ada kejujuran

Hanya untuk Aku bahagia sesaat

Readmore...

Part XII (menyanyikan lagu tentang cinta)

Sahaja..

Aku hanya berusaha mencipakan nada yang sebenarnya telah lama ada didalam dirimu

Menjadikannya lagu tentang cinta Aku menyanyikanya

Hanya menyanyikannya

Lalu menyanyikannya, lagi, lagi

Sampai Aku tertidur lelap

Dan Aku bisa memimpikanmu kembali

Readmore...

Part XI (melihat fatamorgana)

Sahaja..

Warna lain tidak pernah tau rasa terima kasih kepada putih, yang suci yang telah menjadikan warna-warna itu lebih indah

Mungkin saat ini Kau mulai mengerti, Aku tidak lagi menjadi misteri

Bukan salah siapa-siapa

Atau kalau ada yang perlu disalahkan

Dia adalah Aku..

 

Matahari tidak pernah kenal kesetiaan, tetapi dia selalu ada menyinari bumi

Dia tidak pernah mengatakan cinta, tetapi kan selalu ada bersamaku, dihatimu.

Jika tidak ada yang harus mengalah

Jika kebebasan terus menguasai jiwa

Jika cinta tidak dengan kasih sayang

Dan kita hanyut dalam pengandaian

Readmore...

Part VIII, Part IX, Part X

VIII

Sahaja..

Love can’t showed the truth,

But we can’t found it without love inside

Hmm, I hope love an the truth will come together for my eternity

 

IX

Sahaja..

Aku akan bagi setiap hina yang kudapat

Sampai Aku cukup egois untuk menikmati kebahagiaan dengan kesendirian

Kebahagiaan bukan untuk diabadikan

Tapi untuk diberikan kepada yang hak

Kepada mereka yang mengerti makna kebahagiaan itu sendiri


X

Sahaja..

Pagi terlihat bodoh menanyakan kabar padaku

Karena saat ini aku tidak secerah sinarnya, tidak sesejuk embunnya, pun tidak setegarnya saat melewati malam

Readmore...

Part VII (fenomena cinta)

Sahaja..

Kulakukan semua demi cinta

Walau aku harus mengorbankan cinta

Kasihku jauh melebihi cinta

Aku pun begitu

Disetiap ruang kuselipkan cinta

Disetiap waktu, massa, bahkan bila harus berganti peradaban sekalipun.

Dimanapun kau berada

Bumi, air, dan langit

Kusemaikan benihnya di taman cinta

Dimana bila cinta itu mati

Cinta itu akan tetap ada

Menjadi seribu kali banyaknya

Readmore...

Part V (bukan janji teriak hati)

Sahaja..

Selamanya hanya menikmati mimpi

Dibudaki iming-iming semu

Layakya helai daun pada angin yang seolah ingin membawanya kepada langit.

Aku bukan Indiana

Aku bukan Aborigin

Aku bukan Badui

Aku bukan Apocalyps

Aku bukan Amazon

Aku bukan Kapuas

Aku bukan Missisippi

Layaknya anak kecil berlari mengejar bintang dan matahari.

Aku bukan Cheetah

Aku bukan Serigala

Aku bukan Jaguar

Aku bukan Anaconda

Layaknya globalisasi berjuang untuk kedamaian dunia. 

Aku bukan Roma

Aku bukan Yunani

Aku bukan Babilonia

Aku bukan Adi Kuasa

Aku bukan kisah

Seribu Satu Malam

Lalu siapa Aku? Dimana Aku?

Untu siapa Aku? Kemana Aku?

Aku buta dan terus membisu

Mulutku terus berbicara

Namun jiwaku hanya tertunduk diam

Kedua tangannya menutup kepalanya

Kakinya merapat enggan selangkahpun

Berteriak tanpa suara

 Menangis tanpa air mata

Hanya bisa seperti ini.

Tidak lebih.

Readmore...

Part III

Sahaja..

Aku tersungkur oleh lamunanku, terlena olehnya.

Ah..

Andai saja tidak ada batas antara mimpi dan realita.

Mungkin Aku telah berdiri diantara yang kokoh,

terdepan diantara yang tegap berjalan, sedikit mengangkat dagu,

menyapa bunga Kasturi, dan berkata semua telah baik-baik saja

 hai pejuang dunia dan surga.

Readmore...

Part II (gelora ambisi muda sejati)

Sahaja..

Diikatnya dengan tali cambuk pari.

Kulitnya mengalah begitu saja

pada daging-daging maroon

yang hampir meraih tulangnya.

Kita tidak peduli itu.

Iakatan batin akan terasa bila

melawan atau mempertahankan.

Lenganmu juga adalah lenganku

Inginmu pula adalah ambisiku.

Bukankah Kita selalu satu?

Ambisi akan membawaku menemukanmu bila dalam pandangku Kau menghilang.

Tidak Kamu tanpaku

Tidak Aku tanpamu.

Di medan apapun

Terus terdengar gemuruh langkah.

Langkah Kita.

Lihat, cambuk pari itu mulai putus dengan sendirinya.

Karena kita melawan dan mempertahankan.

Sahaja.. bagi mereka yang melawan dan mempertahankan.

Readmore...

Part I (semangat pelaku pemula pemuda)

Sahaja..

Seperti tersenyum diantara penatku

Seperti roda kayu pedati yang tidak mengenal akhir tujuan

Seperti tertidur di puncak Mahameru

Seperti Dewi Fortuna di akhir perjuangan demi kebenaran

Seperti patung Liberty diantara gedung-gedung pencakar langit

Seperti mata air di padang Sahara

Seperti padi terus tunduk namun berisi

Seperti embun terus sejuk walau setitik

Seperti cinta demi kasih sayang Dambaanku, sahaja.. 


Readmore...